MAKALAH AGAMA ISLAM
MANUSIA DAN KEHIDUPAN
DOSEN:
DEDY SUSATO, SPdI, MM
DI
SUSUN OLEH:
1.
FAZZAR IMAM TAOFIQ/151510192
2.
FATIMAH/151510341
3.
PUGUH PANGESTU/151510100
FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT. yang mana atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan peyusunan makalah “Hakekat Manusia Dalam Pandangan
Islam “. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Agama
Islam di Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Pada penulisan makalah ini kami
merasa masih banyak kekurangan baik secara materi maupun teknis penulisan,
mengingat kemampuan yang kami miliki. Maka dari itu kritik dan saran sangat
kami harapkan agar penyusunan makalah ini menjadi lebih baik.
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyeleaikan makalah ini. Khususya
kepada dosen kami yang telah memberi tugas dan arahan kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Pontianak, September 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………...2
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..3
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………..4
A.
Latar
Belakang Masalah…………………………………………………………..4
B.
Tujuan
Masalah……………………………………………………………………4
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………...5
A.
Perjalanan
Hidup Manusia Dari Alam Ruh Hingga Hari Akhir………………….5
B.
Ragam
Orientasi Hidup Manusia…………………………………………………8
C.
Tujuan
Dan Fungsi Penciptaan Manusia………………………………………..9
D.
Hidup
Sukses Dalam Pandangan Al-Qur’an…………………………………......10
BAB III PENUTUP…………………………………………………………...13
A.
Kesimpulan…………………………………………………….........................13
B.
Kritik
Dan Saran……………………………………………………………….13
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………14
BAB
I
PENDAHULUAN
Manusia
adalah ciptaan Allah SWT. yang paling sempurna. Manusia dikatakan makhluk
paling sempurna karena berbeda dengan makhluk lainnya sebab manusia memiliki
akal dan nafsu. Dua hal inilah yang membuat manusia dapat berpikir, bertanggung
jawab serta dapat memilih jalan hidup.
A.
Latar
Belakang Masalah
v Perjalanan
Hidup Manusia Dari Alam Ruh Hingga Hari Akhir
v Ragam
Orientasi Hidup Manusia
v Tujuan
Dan Fungsi Penciptaan Manusia
v Hidup
Sukses Dalam Pandangan Al-Qur’an
B.
Tujuan
Masalah
v Kita
Dapat Mengetahui Perjalanan Hidup Manusia Dari Alam Ruh Hingga Hari Akhir
v Kita
Dapat Mengetahui Ragam Orientasi Hidup Manusia
v Kita
Dapat Mengetahui Tujuan Dan Fungsi Penciptaan Manusia
v Kita
Dapat Mengetahui Hidup Sukses Dalam Pandangan Al-Qur’an
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Perjalanan Hidup Manusia Dari Alam
Ruh Hingga Hari Akhir
Perjalan
hidup manusia berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzah dan
terakhir sampai pada alam akhirat (akhir). Manusia merupakan makhluk terakhir
yang diciptaka Allah SWT. setelah sebelumnya Allah menciptakan makhluk lain seperti
malaikat, jin, bumi, langit dan seisinya. Allah SWT. menciptakan manusia
sebagai makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) dimuka bumi dan
kemakmurannya.
1.
Alam
Arwah
Allah
SWT. mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh
manusia yang berada di dalam arwah. Di sebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf,
7:172 yang artinya;
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?”
Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-oarang yang lemah terhadap ini (Keesaan Tuhan)”.
Dengan
kesaksian dan perjanjian ini seluruh umat manusia lahir kedunia sudah memiliki fitrah beriman kepada-Nya dan agama yang
lurus. Al-Qur’an surah Ar-Rum, 30:30 yang artinya;
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada Agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada pengubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Agama
yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
2.
Alam
Rahim
Penciptaan
manusia dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Mu’minun 23: 12, 13 & 14 yang
artinya;
“dan sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) tanah. Kemudin kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudin
air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan
segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, pencipta yang paling
baik”.
Kemudian
di dalam surah lain juga dijelaskan penciptaan manusia yaitu surah Al-Furqan,
25:54 yang artiya;
“Dan dia (pula) yang menciptakan
manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah
dan Tuhanmu Maha Kuasa”.
3.
Alam
Dunia
Manusia
dilahirkan kedunia dalam keadaan fitrah, suci, bersih seperti kertas putih yang
belum di coret-coret. Setelah akil balig pendidikan dan lingkungannya yang akan
mewarnai kehidupannya. Kejadian ini dijelaskan dalam beberapa surah Al-Qur’an.
Contohnya Al-Qur’an surah Al-Hajj 22: 5, Al-Imran 3:28, An Nahl 16:42, Al-Isra
17:70.
Perjalanan
manusia di dunia bagaikan air jernih yang mengalir, dicemari sampah-sampah kemudian
air ini menjadi keruh dan kotor. Jadi semua perilaku dan sifat manusia itu akan
baik oleh dirinya dan akan buruk oleh sifatnya sendiri.
Allah
SWT. adalah tempat lautan ampunan,
lautan kasih sayang yang menerima siapa saja tanpa mengenal kedudukan yang
hendak kembali kejalan-Nya dan akan mengangkat manusia dari keterpurukan bagi
yang bertawakal dan bertakwa kepada-Nya. Semua ini telah dijelaskan di dalam
surah Az-Zumar, 39:53 yang artinya;
“Katakanlah: Hai hamba-hambaku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.
Di
dalam surah lain juga dijelaskan yaitu Al-Qur’an surah An-Nisa 4: 48, Al-Araf
7: 23, Al-Imran 3:173.
4.
Alam
Barzakh (kubur)
Alam
Barzakh adalah taman dari taman–taman surga atau lembah dari lembah-lembah
neraka. Dialam ini manusia tinggal sendiri, yang akan menemani adalah amal
perbuatan yang pernah diperbuat selama didunia. Jika, seseorang yang menjadi
penghuni surga akan dibukakan pintu untuknya surga setiap pagi dan sore (dia
akan merasakan hawa surga). Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka akan
dibukakan untuknya setiap pagi dan sore (dia aka merasakan hawa panasnya
neraka).
Dialam kubur
manusia yang beriman itu dapat dengan mudah menjawab pertanyaan oleh Malaikat
Munkar Nakir yaitu;
1)
Siapa
Tuhanmu ?
2)
Apa
agamamu ?
3)
Apa
kitab pedomanmu ?
4)
Siapa yang mengajarimu? Dsb.
5.
Alam Akhirat
Pada fase
yang terakhir dari rihlah manusia di hari akhir adalah sebagian mereka masuk
surga dan sebagian masuk neraka. Surga tempat orang-orang bertakwa dan neraka
tempat orang-orang kafir. Kedua tempat tersebut sekarang sudah ada dan
disediakan. Bahkan, surga sudah rindu pada penghuninya untuk siap menyambut
dengan sebaik-baiknya. Nerakapun sudah rindu dengan penghuninya dan siap
menyambut dengan hidangan neraka. Al-Qur’an dan Hadis telah menceritakan surga
dan neraka secara detail. Penyebutan ini agar menjadi pelajaran bagi kehidupan
manusia tentang persinggahan akhir yang akan mereka alami.
Orang-orang kafir, baik
dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik, jika meninggal dunia
dan tidak bertobat, maka tempatnya adalah neraka. Neraka yang penuh dengan
siksaan. Percikan apinya jika ditaruh di dunia dapat membakar semua penghuni
dunia. Minuman penghuni neraka adalah nanah dan makanannya zaqum (buah
berduri). Manusia di sana tidak hidup karena penderitaan yang luar biasa, dan
juga tidak mati karena jika mati akan hilang penderitaannya. Di neraka manusia
itu kekal abadi.
Dalam surga mereka
duduk-duduk bersandar di atas dipan, tidak merasakan panas teriknya matahari
dan dingin yang sangat. Mereka dinaungi pohon-pohon surga dan buah yang sangat
mudah untuk dipetik. Mereka juga mendapatkan bejana-bejana dari perak dan
piala-piala minuman yang sangat bening. Mereka akan minum-minuman surga yang
rasanya sangat nikmat seperti minuman jahe yang didatangkan dari mata air surga
bernama Salsabila. Di surga juga ada banyak sungai yang berisi beraneka macam
minuman, sungai mata air yang jernih, sungai susu, sungai khamr, dan sungai
madu.
Penghuni surga akan dilayani oleh anak-anak muda
yang jika dilihat sangat indah bagaikan mutiara yang bertaburan. Orang-orang
beriman di surga memakai pakaian sutra halus berwarna hijau dan sutra tebal,
juga memakai gelang terbuat dari perak dan emas. Allah SWT. memberikan minuman
kepada mereka minuman yang bersih dan yang tidak kalah nikmatnya yaitu
istri-istri dan bidadari surga. Mereka berwarna putih bersih berseri, bermata
bulat, pandangannya pendek, selalu gadis sebaya belum pernah disentuh manusia
dan jin. Buah dadanya montok dan segar, tidak mengalami haidh, nifas, dan buang
kotoran. Puncak dari semua kenikmatan di surga adalah
melihat sang pencipta Allah yang Maha Indah, Sempurna, dan Perkasa. Sebagaimana
manusia dapat melihat bulan secara serentak, begitu juga manusia akan memandang
Allah secara serentak. Indah, mempesona, takzim, dan suci.
B.
Ragam Orientasi
Hidup Manusia
Kehidupan dunia merupakan kehidupan sementara dan kehidupan
akherat adalah kehidupan abadi. Kehidupan sementara harus sejalan dengan
kehidupan abadi. Jika tidak, maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam
menjalani kehidupan ini. Seorang Muslim senantiasa dituntut untuk mengisi dan memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Seorang
muslim hendaknya memiliki orientasi hidup yang jelas, yang paling tidak
meliputi tiga hal:
1.
Orientasi kemanfaatan
(kemaslahatan)
Manusia yang baik adalah manusia yang bisa
memberi kemanfaatan (kemaslahatan) yang sebesar-besarnya bagi orang lain. Oleh
karena itu, segala potensi yang kita miliki harus kita gunakan untuk memberi
kemanfaatan kebaikan yang sebesar-besarnya, bila ini yang dilakukan manusia,
maka banyak persoalan bisa kita pecahkan dan banyak kemajuan yang bisa kita
capai. Namun, yang amat kita sayangkan adalah banyak manusia yang belum bisa
memberi kemanfaatan kepada orang lain, bahkan dirinya sendiri saja bermasalah. Oleh karena itu, segala bentuk
kesia-siaan akan ditinggalkan oleh setiap mukmin yang ingin meraih
keberuntungan dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Allah SWT. berfirman:
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. (QS. Al-Mu’minun, 23:1-3)
”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. (QS. Al-Mu’minun, 23:1-3)
2. Orientasi kepedulian
Sebagai muslim yang beriman sudah pastinya hurus memiliki
rasa kepedulian. Contohnya, kita
membantu terhadap kesulitan hidup yang dialami orang lain dan kita akan
berusaha menjadi bagian dari solusinya. Maksudnya yaitu apabila ada orang yang
sedang kesulitan kita membantunya agar kesulitan yang dialaminya dapat
terselesaikan dengan cepat. Inilah kebajikan yang harus kita tunjukkan dalam
kehidupan nyata sebagaimana firman Allah SWT:
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memer dekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan,
mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah, 2:177)
3.
Orientasi
kedisiplinan
Seorang Muslim senantiasa dituntut untuk disiplin dalam melaksanakan
nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah SWT. dan telah dibimbing dengan
diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuknya sehingga bisa membedakan mana jalan
hidup yang benar dan mana yang salah, Allah SWT. berfirman:
”(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah, 2:185)
”(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah, 2:185)
C.
Tujuan Dan Fungsi Penciptaan Manusia
1.
Tujuan Penciptaan
Manusia
Tujuan
penciptaan manusia adalah sebagai abdi kepada Allah
dan khalifah di bumi. “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka beribadah kepadaKu”. (Adh-Dhariyat, 51:56)
Tanggung
jawab sebagai abdi merupakan suatu tanggung jawab individu atau
fardhu’ain. Meliputi kepada kemestian untuk memahami lapangan akidah dan
tauhid, syariat dan akhlak. Pengabdian manusia
pada Allah lebih mencerminkan manusia agar terwujudnya sebuah kehidupan dengan
tatanan yang adil dan baik. Oleh karena itu pengabdian manusia harus dilakukan
secara ikhlas karena Allah SWT. Dalam hal ini Allah berfirman:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya
mereka menyambah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan
aku tidak menghendaki supaya mereka member aku makan. Sesungguhnya Allah,
Dialah maha pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. (Adh-Dhariyat, 51:56-58)
“Dan mereka telah di perintahkan kecuali supaya mereka menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) Agama dengan
lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan degnan
dekimikian itulah Agama yang lurus”. (Bayinnah, 98:5)
2.
Fungsi
Penciptaan Manusia
Fungsi penciptaan manusia adalah sebagai khalifah yang telah
ditetapkan Allah SWT. diantaranya adalah:
Pertama adalah belajar (surat An-naml, 27: 15-16 dan Al-Mukmin
:54) ; Belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat Al-Alaq adalah
mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.
Kedua adalah mengajarkan ilmu (Al-Baqoroh, 2: 31-39); Khalifah
yang telah diajarkan ilmu Allah maka wajib untuk mengajarkannya kepada manusia lain.
Hal ini yang dimaksud dengan ilmu Allah adalah Al-Qu’ran dan juga Al Bayan.
Ketiga adalah membudayakan ilmu (Al-Mukmin : 35 ); Ilmu yang
telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan
dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya.
D.
Hidup
Sukses Dalam Pandangan Al-Qur’an
Pada umumnya
masyarakat memahami arti kesuksesan identik dengan pencapaian cita-cita,
harapan serta keinginan. Simpelnya Kata sukses berarti pencapaian keberhasilan
atau keberuntungan atas wujud nyata dari apa-apa yang dicita-citakan.
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama
tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih
kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan kekal”.
(QS. A'Alaa, 87: 14 - 17)
Lantas
bagaimana makna “Sukses Menurut Al-qur’an?”. Dalam Al-qu’ran kata sukses
terbagi menjadi 3 (tiga); al-falaah, an-najaat dan al-fauz.
Menurut tata bahasa, al-falaah berarti kemenangan, kelestarian, kekekalan,
keberuntungan dan kebertahanan hidup. An-najaat berarti keselamatan atau
keterhindaran dari bencana serta kegagalan dan terhalaunya hambatan. Adapun
al-fauz berarti keberhasilan atau keberuntungan yang baik.
Dalam Al-qur’an yang berkaitan
dengan al-falaah, hampir rata-rata menjelaskan dan menerangkan 5 hal tersebut
di bawah ini.
- Bebas dari hal-hal yang membuat rugi, sakit dan memperburuk keadaan diri (An-najaat),
- Mendapatkan dan meraih keadaan dan kondisi yang layak, baik dan sentosa (Al-falaah),
- Tercapainya harapan serta cita-cita (Al-fauz),
- Menang dan berhasil menaklukkan berbagai rintangan (Al-fauz wa an-najaat),
- Menggapai 'keabadian' hidup (al-falaah), keberadaannya dikenang secara positif sepanjang sejarah, mendapatkan kehidupan damai (kekal) di dunia dan kehidupan akhirat.
D.1. 10 Cara Hidup Sukses Dalam
Islam
1)
Niatkan
Maka Kau Aka Mendapatkan
Rasulullah saw bersabda
dalam sebuah hadis:
Dari
Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya
mendengar Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung
niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia
niatkan”. (HR Bukhari Muslim)
2)
Mendo’akan
Saudara
Jika
kita mendo’akan saudara kita tanpa sepengetahuannya, insya Allah kita akan
mendapatkan apa yang kita do’akan.
Dari
Abu Darda’ra bahwasannya ia mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Tiada
seorang muslim yang mendo’akan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya,
kecuali malaikat berkata: Dan untuk kamu pula seperti itu”. (HR. Muslim)
3)
Memiliki
Ilmunya
“Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang
ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya
bintang”. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah)
“Barangsiapa menginginkan sukses dunia
hendaklah diraihnya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki sukses akherat
hendaklah diraihnya dengan ilmu, barangsiapa ingin sukses dunia akherat
hendaklah diraih dengan ilmu”. (Iman Syafi’i)
4)
Berubahlah
Allah
yang menentukan, namun perintah Allah juga agar kita mau mengubah diri sendiri.
Jika anda ingin meraih apa yang anda inginkan atau mengubah kondisi anda, maka
berubahlah.
“Allah
tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah
nasib atau keadaan yang ada pada dirinya”. (QS Ar-Ra’d, 13:11)
5)
Silahturahim
“Barang
siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau
jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi”. (HR
Muslim)
“Barang
siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari
kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung
silaturahmi”. (HR Imam Bazar, Imam Hakim)
6)
Berdo’a
”Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang memohon
kepada-Ku. Maka bermohonlah kepada-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka
selalu berada dalam kebenaran”. (Q.S Al-Baqarah, 2:186)
Hadis
dari Imam Turmidzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW.
bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan
dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah
daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a
bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak
ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah
pada do’a”. (HR Turmudzi dan
Hakim)
7)
Tawakal
Dari
Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal,
niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan
rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan
kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang”.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
8)
Sahadaqah
”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah, 2: 261)
9)
Syukuar
“Sesunggunhnya jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah
(nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih”. (QS Ibrahim, 14: 7)
10) Bertakwa
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu”. (QS. At-Talaq, 65:2-3)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peran dan
fungsi Agama bagi manusia sangatlah berpengaruh terhadap kehidupannya, karena
setiap manusia pasti memiliki pandangan hidup untuk mecapai kehidupan yang
sejahtera, baik sebagi pedoman dalam kehidupanya atau petunjuk hidupnya.
Agama sangat
penting dalam kehidupan manusia karena Agama:
1. Sumber moral
2. Merupakan petunjuk kebenaran
3. Merupakan sumber informasi yang
akurat
4. Memberi bimbingan rohani bagi
manusia, baik dikala suka maupu dikala duka
B.
Kritik Dan Sara
Demikian
yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok pembahasan dalam
makalah ini, terutamanya masih banyak kekurangan dan kelemahan. Karena
terbatasya pengetahuan dan kekurangan rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah yang kami susun tersebut.
Kami selaku
penulis banyak berharap para pembaca sudi memberikan kritik dan saran yang tentunya
dapat membantu kepada kami demi tercapainya kesempurnaan dalam makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami dan pada khususnya seluruh pembaca
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.dakwatuna.com/2007/02/21/108/perjalanan-hidup-manusia/#axzz3nASp4R3p
http://surouawwabi.blogspot.co.id/2012/02/orientasi-kehidupan.html
https://aristasefree.wordpress.com/tag/fungsi-dan-peranan-manusia-dalam-islam/
https://wmazmi.wordpress.com/2008/05/26/tujuan-penciptaan-manusia/
http://www.motivasi-islami.com/10-cara-sukses-dalam-islam/